Oleh: mulyanto | 25 Februari, 2008

[Kesehatan] Penyakit Kejiwaan


Kata ahlinya ada empat jenis penyakit kejiwaan:

1. Penyakit kejiwaan berat alias Gila.
2. Penyakit kejiwaan ringan.
3. Gangguan kepribadian (mengganggu orang lain).
4. Kecerdasan dibawah rata-rata.

Sakit jiwa menarik buat saya. Kalau saya analogikan sakit jiwa dengan error pada sistem komputer maka penyebab sakit jiwa ada dua:
1. Software yang damaged
2. Hardware yang damaged

Software yang damaged
1. Install ulang software (kalau ini saya berpengalaman).
2. Tidak bisa atau sulit install ulang software:
– sulit karena mahal dan kompleks. Butuh environment yang mendukung. Perlu setidaknya seorang guard yang memfilter environment. Guard yang terpercaya, kompeten dan reliable.

Hardware yang damaged
Apanya yang rusak? Syaraf? sel otak?
Kembali ke jiwa yang sehat dulu. Pikiran orang yang sehat selalu bekerja. Mikir terus!!. Entah mikir apa, pasti selalu ada yang dipikir kan? . Nah sekarang pikiran apa yang kadang membuat kita menjadi gila (sementara) ? stress? bete? tertekan? marah?.
Apa itu stress? bete? tertekan? marah?. Apa itu perasaan? :)

Kembali ke proses “kegilaan sementara”, apa yang terjadi? Tindakan gelap mata yang hanya mengikuti emosi/kemarahan dan mengabaikan akal sehat.
Nah ada petunjuknya itu. Jadi saat gila, akal sehat nya shutdown :). Terus apa itu emosi? akal tidak sehat kan. Jadi mungkin yang berpikir adalah sama tapi algoritma-nya yang berbeda.

Apa yang menjadi switch atau jump antara akal(algoritma) sehat dan akal(algoritma) tidak sehat itu? Emosi jelas. Tapi buat orang gila, apa itu? masa emosi terus menerus. Bisa jadi :)

Kalau dalam microprosessor seperti SPARC atau leon, kondisi tersebut dinamakan break mode karena page-fault atau data-exception.

Ceritanya dibreak dulu. Mengapa saya menulis tentang sakit jiwa? Karena ini sebenarnya masalah besar dan bisnis besar. Yup bisnis besar, karena:
1. Biasanya penderita tidak bisa dirawat di rumah (rawat jalan)
2. Sakitnya lama, berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.

Nah kalau anda punya klinik (apalagi kinik bintang sekian :) ) kebayang kan income-nya? Kebayang kan bisnis-continuitasnya? Kemudian menjadi masalah besar buat masyarakat, yah karena sulit, lama dan mahal untuk pengobatannya.

Mas katro kan kompetesinya bukan ginian kan?

Sebenarnya nyerempet sih, kadang kan kita mikir yang namanya artificial inteligent alias kecerdasan buatan. Saya ada ide untuk ini, cuman belum sempat dicoba. Ide lama sejak 1996.

Weleh sudah 12 tahun bos! Lagian mas kan katro, nggak cerdas. Entar malah jadinya artificial katro! :D

Update 6 Mei 2008

Barusan dapat pencerahan dari http://azrl.wordpress.com/2008/05/06/bahaya-stress/, ternyata jaringan penghubung otak bisa rusak kalau terlalu lama stress. Akibat ada hormon glucocorticoids yang terlalu lama beredar di otak. Ini yang mungkin namanya page-fault atau data-exception. Berikutnya “bagaimana cara memulihkan jaringan penghubung otak yang rusak”.

About these ads

Responses

  1. asalamualaikum..
    mf pak,
    saya mo bertanya..
    ini tentang anggota saya,
    dia siswi berumur 17 th..
    mslahnya adlah setiap dia memberikan argumen pandngan dia sngt luas,sngt tinggi sampai anggota saya yang lain g bs nangkap pa yang dia bcrkn..
    teruz, sikap guru- guru ke dia pun g bgt bagus,
    sampai orangtuanya pun berasumsi kalo dia tu stres..
    dan klo dia ngomong tu g fokus k 1 mslh..
    yg ada mlh melanglang buana kemana mana..
    emangnya ambisi juga punya pengaruh kuat y?
    cz dia ni berambisi mu pny usha kafe & jadi best speaker se DkI Jakarta..
    dn krn argumennya tu,anggota sy yg laen jd kesel..

    sbenarnya teman saya ni masuk k dlam kriteria yang mana?
    truz cr ngatasinnya gmn? bisna klo dia dh ngomong tu jadi kaya diktator..

    terimakasih.
    wassalam..

    ———————————————————————————————————————-
    MULYANTO :

    walaikumsalam wr.wb.

    mohon maaf baru saya balas, karena hari ini baru ketahuan komentar mba Icha dikira spam.

    Pertama, saya bukan ahli jiwa :).
    Kedua, apakah dia stress? apakah dia sakit jiwa? Paling gampang dilihat saat emosi. Apakah dia bisa marah berlebihan, misalnya sampai melempar gunting ke orang lain? Kalau yah, dia berpotensi sakit jiwa.

    Apakah dia depresi? depresi itu lanjutannya stress. Gejalanya suka diam membisu, tak mau gaul. Tidak bisa menikmati lagu atau film.

    Kalau hanya berwawasan luas dan tidak fokus satu masalah, saya kira bukan sakit jiwa. Asal yang menjadi argumen memang berhubungan kuat. Tapi memang suatu masalah banyak disebabkan faktor2. Ada faktor yang kuat dan ada faktor yang lemah. Nah dalam berdiskusi atau berargumen memang perlu attitude yang baik. Dan untuk menyelesaikan suatu masalah juga perlu “first thing first”. Satu persatu begitu, mana yang utama dulu, baru berikutnya lagi, dan seterusnya Kelihatannya yang terjadi adalah kurangnya attitude (kurang bisa menghargai/menghormati pendapat yang lain, walau salah) dan tidak memahami konsep “first thing first” serta tidak mau kalah.

    Bagaimana cara mengatasinya? Coba tunjukkan contoh pendebat yang elegan, mungkin bisa dipakai contoh Obama vs McCain.

  2. assalamualaikum,,,
    saya mau tanya,,
    gini loh pak,, ad seseorang,,
    dia itu seperti mempunyai dunia lain,, tidak terlalu suka berkomunikasi dengan orang lain,, diam – diam saja.
    tapi kalau dia sendirian,, dia berbicara sendiri,,seperti AUtis tapi dia tidak autis.
    dia selalu berhayal,, seakan – akan dia mempunyai teman khayalan yang diua buat sendiri,,sampai – sampai dia seperti meutup diri dari dunia yang sesungguhnya ia jalani,, itu bagaimana ya p? saya tunggu balasannya ya?

  3. Saya seorg wanita 23 th, saya orangx sangat sensitif, aplg thdap pacar saya, kalau ada sikapx yang brubah sya pasti merasa, klau dia marah atau mbentak, saya langsung marah2, emosi saya meledak2 seperti orang yang tidak bs trkontrol, dan saya bsa memukul dia membabi buta, dan trkdang saya menyakiti diri saya sendri, dan itu sudah ckup sering terjadi, smenjak sya berpacaran dg dia, yg saya ingin tanyakan, apakh saya trmasuk orang yg memiliki gangguan kejiwaan? Bagaimana cara agar saya dapat mengendalikan emosi saya? Terimakasih

    • Wah anda seperti saudara saya yang sakit jiwa hingga sekarang. Gejala awalnya seperti anda. Percayalah anda harus berhati-hati mulai sekarang sebelum sampai seperti saudara saya.

      Pertama, belajarlah untuk tidak sensitif dan tidak cepat marah. Dimulai dari cara berpikir/menilai. Misalnya kalau sekarang anda berpikir “kalau pacar saya salah maka harus marah”. Anda harus merubahnya “kalau pacar saya salah, yah biarin.. manusia bisa salah”. Ini berlaku juga untuk hal-hal lain. Jadi mulai sekarang jangan berpikir “kalau begini maka saya marah”. Coba anda biasakan dengan kekurangan/kesalahan orang.

      Kedua, Jangan memendam masalah. Kalau ada masalah, coba curhat ke teman/saudara/teman. Atau teman chat/sms. Atau kalau perlu anda buat blog curhat :). Kalau curhat di blog kan bisa anda pakai nama2 atau istilah2 samaran.

      Dekatlah dengan Allah, apa yang kita punyai sekarang kan sebenarnya semua titipan/pinjaman Allah. Innalilahi wa inalilahi rojiun. :)

  4. Maaf bang saya mau nanya nih. Gmn caranya menyerang kejiwaan seseorang dgn kata-kata hehe. Biar org yg saya tujukan jd stress sendiri.
    Terima kasih

  5. Maav yah saya nyelak..
    jawaban buat radian nih..
    sebenarnya gak ada kata-kata yang buat orang terguncang jiwanya.

  6. saya,cewek berusia 16th.tiap malem saya nangis2 sendiri kala saya mengingat kejadian2 ato masalah yang sedang saya hadapi..terkadang saya berbicara sendiri..dulu mama saya pernah mengira bahwa saya gila,,karena saya tega menyakiti adik saya sendiri(parah)..pa lg waktu saya berumur 12-14th,saya sangat membenci bayi.bayi tetangga saya pun jadi korban saya.saya jewer,cubit,pukul,kadang juga menutup hidungnya biar ga nafas..apa saya gila??

    =====================================================================
    Mulyanto :

    Wah saya kira gejala-gejala itu sudah menunjukan kecenderungan sakit jiwa. Karena anda masih muda, belum banyak masalah besar yang dihadapi, jadi gejalanya belum fatal. Efeknya juga belum fatal.. Waspadalah nanti kalau menghadapi masalah yang lebih besar, jiwa anda bisa pecah. Wuiihhhhhhh gaya saya kok seperti ahli jiwa saja yah hahahahahaha. Mungkin sebaiknya anda segera berkonsultasi dengan ahlinya di RSJ. Lebih baik begitu daripada nanti anda terlanjur gila beneran malah nggak bisa sembuh sama kali.

  7. 2th yang lalu saya pernah di bawa ke pskiatri..kata pskiatri “itu biasa..efek dari kehilangan”
    saya bingung..saya kehilangan mama saya sudah 10th lalu,mana mungkin efeknya sampai sekarang belum hilang..
    saya juga pernah di bawa ke kyai(kakek saya)..beliau mengatakan bahwa saya hanya kurang perhatian dari orang terdekat..
    jujur,,sejak 4th yang lalu saya berubah..saya suka mengambil barang2 orang atau di jalan2.
    saya gila!!

    =======================================================================
    Mulyanto :

    Gila beneran sih belum, tapi sudah retak. Khawatirnya bisa pecah. Pengalaman dengan saudara, mengamati perilakunya tiap hari. Waktu kecil kalau berantem sangat berlebihan sampai lempar gunting segala. Sampai usia 17 kelihatannya semuanya normal-normal saja. Tapi ketika masuk kuliah dan di OS, pecahlah dia. Jadi gila beneran sampai sekarang :p .

  8. ya..yang saya takutkan itu apa yang anda bilang barusan..
    2bln yg lalu saya bertemu mahasiswa slh stu perguruan tinggi di surabaya,,dia ambil jur. pskiatri..dan dia menjadi teman curhat saya.tapi dia pergi dan mengatakan, “saya gak kuad dengerin curhatan kamu!”
    saya sih sadar diri,saya keterlaluan..
    dia pernah saya lempar pake gunting dan kena tangannya sampai berdarah.karena dia bentak2 saya,,

  9. maaf mas…
    saya numpang tanya… saya punya seorang adik yg telah dikhianati pacarnya.. sekarang dia telah menikah dengan gadis pilihannya yang lain.. namun,ntah kenapa sifatnya berubah,dia menjadi over protectif dan over cemburu,sampai2 tega nyakitin istrinya sendiri (geram saya).. dan yg herannya setelah kejadian tsb,dia sprt tidak bersalah.. apa itu termasuk penyakit kejiwaan mas..? makasih..

    • Over protektif dan over cemburu itu akibat dari ketidakpercayaan. Ketidakpercayaan bisa karena diakibatkan trauma/pengalaman masa lalu, bisa karena memang pasangannya tidak bisa dipercaya. Kalau adik anda muslim. sebetulnya tinggal diikuti guideline berumah tangga-nya. Mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan, kalau masih dalam guideline itu yah berarti bukan over protektif dan over cemburu. Tentang perasaan tidak bersalah bisa jadi karena suami merasa tidakannya masih benar yaitu masih dalam guideline. Kemungkinan lain bisa jadi karena tindakan menyakitinya itu dipicu pertama kali oleh tindakan/ucapan istrinya, karena tindakannya reaksi atas aksi istrinya maka dia tidak merasa bersalah. Saya tidak tahu persis apa yang terjadi, juga tidak tahu tentang adik anda, jadi tidak bermaksud membela adik anda. Hanya memperlihatkan cara pandang/ cara berpikir yang mungkin dari seorang suami.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 123 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: