Kata ahlinya ada empat jenis penyakit kejiwaan:
1. Penyakit kejiwaan berat alias Gila.
2. Penyakit kejiwaan ringan.
3. Gangguan kepribadian (mengganggu orang lain).
4. Kecerdasan dibawah rata-rata.
Sakit jiwa menarik buat saya. Kalau saya analogikan sakit jiwa dengan error pada sistem komputer maka penyebab sakit jiwa ada dua:
1. Software yang damaged
2. Hardware yang damaged
Software yang damaged
1. Install ulang software (kalau ini saya berpengalaman).
2. Tidak bisa atau sulit install ulang software:
– sulit karena mahal dan kompleks. Butuh environment yang mendukung. Perlu setidaknya seorang guard yang memfilter environment. Guard yang terpercaya, kompeten dan reliable.
Hardware yang damaged
Apanya yang rusak? Syaraf? sel otak?
Kembali ke jiwa yang sehat dulu. Pikiran orang yang sehat selalu bekerja. Mikir terus!!. Entah mikir apa, pasti selalu ada yang dipikir kan? . Nah sekarang pikiran apa yang kadang membuat kita menjadi gila (sementara) ? stress? bete? tertekan? marah?.
Apa itu stress? bete? tertekan? marah?. Apa itu perasaan?
Kembali ke proses “kegilaan sementara”, apa yang terjadi? Tindakan gelap mata yang hanya mengikuti emosi/kemarahan dan mengabaikan akal sehat.
Nah ada petunjuknya itu. Jadi saat gila, akal sehat nya shutdown
. Terus apa itu emosi? akal tidak sehat kan. Jadi mungkin yang berpikir adalah sama tapi algoritma-nya yang berbeda.
Apa yang menjadi switch atau jump antara akal(algoritma) sehat dan akal(algoritma) tidak sehat itu? Emosi jelas. Tapi buat orang gila, apa itu? masa emosi terus menerus. Bisa jadi
Kalau dalam microprosessor seperti SPARC atau leon, kondisi tersebut dinamakan break mode karena page-fault atau data-exception.
Ceritanya dibreak dulu. Mengapa saya menulis tentang sakit jiwa? Karena ini sebenarnya masalah besar dan bisnis besar. Yup bisnis besar, karena:
1. Biasanya penderita tidak bisa dirawat di rumah (rawat jalan)
2. Sakitnya lama, berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.
Nah kalau anda punya klinik (apalagi kinik bintang sekian
) kebayang kan income-nya? Kebayang kan bisnis-continuitasnya? Kemudian menjadi masalah besar buat masyarakat, yah karena sulit, lama dan mahal untuk pengobatannya.
Mas katro kan kompetesinya bukan ginian kan?
Sebenarnya nyerempet sih, kadang kan kita mikir yang namanya artificial inteligent alias kecerdasan buatan. Saya ada ide untuk ini, cuman belum sempat dicoba. Ide lama sejak 1996.
Weleh sudah 12 tahun bos! Lagian mas kan katro, nggak cerdas. Entar malah jadinya artificial katro!
![]()
Update 6 Mei 2008
Barusan dapat pencerahan dari http://azrl.wordpress.com/2008/05/06/bahaya-stress/, ternyata jaringan penghubung otak bisa rusak kalau terlalu lama stress. Akibat ada hormon glucocorticoids yang terlalu lama beredar di otak. Ini yang mungkin namanya page-fault atau data-exception. Berikutnya “bagaimana cara memulihkan jaringan penghubung otak yang rusak”.


asalamualaikum..
mf pak,
saya mo bertanya..
ini tentang anggota saya,
dia siswi berumur 17 th..
mslahnya adlah setiap dia memberikan argumen pandngan dia sngt luas,sngt tinggi sampai anggota saya yang lain g bs nangkap pa yang dia bcrkn..
teruz, sikap guru- guru ke dia pun g bgt bagus,
sampai orangtuanya pun berasumsi kalo dia tu stres..
dan klo dia ngomong tu g fokus k 1 mslh..
yg ada mlh melanglang buana kemana mana..
emangnya ambisi juga punya pengaruh kuat y?
cz dia ni berambisi mu pny usha kafe & jadi best speaker se DkI Jakarta..
dn krn argumennya tu,anggota sy yg laen jd kesel..
sbenarnya teman saya ni masuk k dlam kriteria yang mana?
truz cr ngatasinnya gmn? bisna klo dia dh ngomong tu jadi kaya diktator..
terimakasih.
wassalam..
———————————————————————————————————————-
MULYANTO :
walaikumsalam wr.wb.
mohon maaf baru saya balas, karena hari ini baru ketahuan komentar mba Icha dikira spam.
Pertama, saya bukan ahli jiwa
.
Kedua, apakah dia stress? apakah dia sakit jiwa? Paling gampang dilihat saat emosi. Apakah dia bisa marah berlebihan, misalnya sampai melempar gunting ke orang lain? Kalau yah, dia berpotensi sakit jiwa.
Apakah dia depresi? depresi itu lanjutannya stress. Gejalanya suka diam membisu, tak mau gaul. Tidak bisa menikmati lagu atau film.
Kalau hanya berwawasan luas dan tidak fokus satu masalah, saya kira bukan sakit jiwa. Asal yang menjadi argumen memang berhubungan kuat. Tapi memang suatu masalah banyak disebabkan faktor2. Ada faktor yang kuat dan ada faktor yang lemah. Nah dalam berdiskusi atau berargumen memang perlu attitude yang baik. Dan untuk menyelesaikan suatu masalah juga perlu “first thing first”. Satu persatu begitu, mana yang utama dulu, baru berikutnya lagi, dan seterusnya Kelihatannya yang terjadi adalah kurangnya attitude (kurang bisa menghargai/menghormati pendapat yang lain, walau salah) dan tidak memahami konsep “first thing first” serta tidak mau kalah.
Bagaimana cara mengatasinya? Coba tunjukkan contoh pendebat yang elegan, mungkin bisa dipakai contoh Obama vs McCain.
Oleh: icha on 28 November, 2008
at 9:13 am
assalamualaikum,,,
saya mau tanya,,
gini loh pak,, ad seseorang,,
dia itu seperti mempunyai dunia lain,, tidak terlalu suka berkomunikasi dengan orang lain,, diam – diam saja.
tapi kalau dia sendirian,, dia berbicara sendiri,,seperti AUtis tapi dia tidak autis.
dia selalu berhayal,, seakan – akan dia mempunyai teman khayalan yang diua buat sendiri,,sampai – sampai dia seperti meutup diri dari dunia yang sesungguhnya ia jalani,, itu bagaimana ya p? saya tunggu balasannya ya?
Oleh: sha on 28 Mei, 2009
at 10:25 am
Saya seorg wanita 23 th, saya orangx sangat sensitif, aplg thdap pacar saya, kalau ada sikapx yang brubah sya pasti merasa, klau dia marah atau mbentak, saya langsung marah2, emosi saya meledak2 seperti orang yang tidak bs trkontrol, dan saya bsa memukul dia membabi buta, dan trkdang saya menyakiti diri saya sendri, dan itu sudah ckup sering terjadi, smenjak sya berpacaran dg dia, yg saya ingin tanyakan, apakh saya trmasuk orang yg memiliki gangguan kejiwaan? Bagaimana cara agar saya dapat mengendalikan emosi saya? Terimakasih
Oleh: Elin on 2 November, 2009
at 12:02 am
Wah anda seperti saudara saya yang sakit jiwa hingga sekarang. Gejala awalnya seperti anda. Percayalah anda harus berhati-hati mulai sekarang sebelum sampai seperti saudara saya.
Pertama, belajarlah untuk tidak sensitif dan tidak cepat marah. Dimulai dari cara berpikir/menilai. Misalnya kalau sekarang anda berpikir “kalau pacar saya salah maka harus marah”. Anda harus merubahnya “kalau pacar saya salah, yah biarin.. manusia bisa salah”. Ini berlaku juga untuk hal-hal lain. Jadi mulai sekarang jangan berpikir “kalau begini maka saya marah”. Coba anda biasakan dengan kekurangan/kesalahan orang.
Kedua, Jangan memendam masalah. Kalau ada masalah, coba curhat ke teman/saudara/teman. Atau teman chat/sms. Atau kalau perlu anda buat blog curhat
. Kalau curhat di blog kan bisa anda pakai nama2 atau istilah2 samaran.
Dekatlah dengan Allah, apa yang kita punyai sekarang kan sebenarnya semua titipan/pinjaman Allah. Innalilahi wa inalilahi rojiun.
Oleh: mulyanto on 2 November, 2009
at 7:37 pm