Gempa terakhir di Cina mengakibatkan puluhan ribu orang tewas karena tertimbun runtuhan bangunan. Gempa sebetulnya tidak membunuh, yang membunuh adalah bangunan yang lemah. Bangunan yang konstruksinya lemah. Peristiwa badai di Myanmar juga menelan ribuan orang akibat bangunan/rumah tidak bisa memberikan perlindungan.
Bangunan tahan gempa tidak berarti bangunan tersebut akan utuh jika terkena gempa, tetapi artinya bangunan tetap berdiri walau tembok pecah. Ketika saya membangun rumah saya dengan kriteria tahan gempa, ada saudara saya yang sinis. Dia berujar “… membangun rumah tahan gempa, mau cari selamat sendiri.. ”
. Saya jawab, “Yah mending kalau meninggal, kalau jadi cacat seumur hidup??? “. Eh dijawab begitu, saudara saya lalu merombak rumahnya, membuat struktur rumahnya juga tahan gempa
. Saudara saya yang lain melihat saya begitu boros di cor-coran dan di besi pun berkata, “.. mending duitnya buat nambah tembok.” . Maksudnya mending budget-nya buat memperbesar ukuran rumah. Saya jawab, ” cor-coran sloof, kolom, ringbalok tidak bisa dibongkar terus ditambah nanti. Tapi dinding bisa ditambah nanti”. Yah buat saya mending saya buat sloof, kolom, ringbalok dengan besi yang sempurna. Walau akhirnya dinding tidak diteplok. Teplokan dinding kan bisa menyusul nanti. Tapi kalau mau ganti cor-coran sloof, kolom, ringbalok kan harus meruntuhkan bangunan
.
Bangunan tahan gempa juga bikin males tukang/kontraktor, karena biaya menjadi bengkak. Walaupun pembekakan biaya disetujui pemilik bangunan tetap akan memberi citra tukang/kontraktor yang mahal/boros
. Biaya besi bisa menjadi 4 kali lebih mahal. Jumlah semen juga akan membengkak 2-4 kali
. Anda bisa diketawain oleh tukang/kontraktor yang irit bahan.
Padahal pembekakan biaya tidak sebanding dengan taruhannya. Maukah anda mempertaruhkan keselamatan keluarga demi biaya jutaan rupiah saja?
.

